MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN KREATIF

Oleh:
Dra. Endang Siwi Ekoati ( Widyaiswara LPMPJATENG )

Pendahuluan

Kualitas pembelajaran di kelas memiliki kontribusi terhadap mutu pendidikan di suatu sekolah. Untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas di kelas ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain: guru, siswa, sarana-prasarana, dan segenap pemangku kepentingan yang berkaitan dengan sekolah. Dari faktor tersebut kiranya guru merupakan faktor paling dominan yang menentukan kualitas pembelajaran.

Harapan kita guru memiliki paradigma baru mengenai pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. Mereka semestinya dapat melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tantangan zaman mendatang. Untuk itu, kepemilikan guru tentang berbagai strategi pembelajaran, dan kemampuan guru menerapkan model pembelajaran secara bervariasi dan tepat sesuai dengan materi pembelajaran amat diperlukan.

Apakah kondisi yang diharapkan tersebut sudah terpenuhi? Guru kita telah benar-benar profesional? Mereka telah memiliki paradigma yang benar mengenai pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan iptek dan tantangan zaman? Apakah guru kita memiliki kekayaan yang memadai tentang berbagai strategi, metode, dan model pembelajaran? Terhadap sejumlah pertanyaan itu, kiranya kita tidak dapat sepenuhnya menjawab “ya” ataupun “tidak”. Namun, kita mungkin sepakat bahwa kondisi guru kita masih perlu ditingkatkan kemampuannya dalam melakukan pembelajaran di kelas.

Untuk tujuan itulah, makalah ini disajikan dalam seminar ini, yaitu: menawarkan kepada para guru suatu model pembelajaran kooperatif dan kreatif untuk dapat diterapkan dalam pembelajaran yang dilakukannya di kelas. Berbagai model pembelajaran yang tersaji nanti semoga dapat memperkaya kepemilikan guru tentang berbagai strategi, metode, dan model pembelajaran. Dari sinilah nanti kita berharap suasana pembelajaran di kelas menjadi lebih berwarna dan bermakna.

Paradigma Pembelajaran

Sejauh ini masih ada guru yang beranggapan bahwa mereka serasa belum mengajar bila pembelajarannya yang dilakukan belum menceramahi siswa. Rasanya belum puas bila guru belum “berbusa-busa” dalam mencurahkan segala informasi yang dimiliki kepada siswa. Hal itu terjadi mungkin karena mereka semasa menjadi siswa belajar dari cara gurunya dulu mengajar memang seperti itu. Kemungkinan lain, paradigma pembelajaran yang diyakini bersumber dari teori tabula rasa John Locke. Ia mengatakan bahwa pikiran seorang anak adalah seperti kertas kosong putih bersih yang siap menunggu coretan-coretan gurunya. Dengan kata lain, otak seorang anak adalah ibarat “botol kosong” yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan sang maha guru. Berdasarkan anggapan ini dan asumsi yang sejenisnya, banyak guru melaksanakan pembelajara sebagai berikut:

1. Memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. Tugas seorang guru adalah memberi. Dan tugas seorang siswa adalah menerima. Guru memberikan informasi dan mengharapkan siswa menghafal dan mengingatnya.
2. Mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Siswa adalah penerima pengetahuan yang pasif. Guru memiliki pengetahuan yang nantinya akan dihafal oleh siswa.
3. Mengkotak-kotakkan siswa. Guru mengelompokkan siswa berdasarkan nilai dan memasukkan siswa dalam kategori, siapa yang berhak naik kelas, siapa yang tidak, siapa yang bisa lulus dan siapa yang tidak. Kemampuan dinilai dengan ranking dan siswa pun direduksi menjadi angka-angka.
4. Memacu siswa dalam kompetisi bagaikan ayam aduan. Siswa bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Siapa yang kuat, dia yang menang. Orang tua pun saling bersaing menyombongkan anaknya masing-masing dan menonjolkan prestasi anaknya bagaikan memamerkan binatang aduan.

Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak lagi bisa mempertahankan paradigma lama tersebut. Sudah saatnya guru harus mengubah cara pandangnya dalam melaksanakan pembelajaran. Guru harus bermigrasi dari paradigma mengajar siswa ke membelajarkan siswa; berpindah dari peran sebagai instruktur menjadi fasilitator. Guru perlu melakukan model pembelajaran dengan memperhatikan beberapa pokok pikiran sebagai berikut.

1. Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. Guru menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa untuk membentuk makna dari bahan-bahan pelajaran melalui suatu proses belajar-mengajar dan menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu dapat diproses dan dikembangkan lebih lanjut.
2. Siswa membangun pengetahuan secara aktif. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan struktur kognitif mereka dan membangun struktur-struktur baru untuk mengakomodasi masukan-masukan pengetahuan yang baru. Jadi, penyusunan pengetahuan yang terus-menerus menempatkan siswa sebagai peserta yang aktif.
3. Guru perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar-mengajar harus lebih menekankan pada proses daripada hasil. Setiap orang pasti memiliki potensi. Paradigma lama mengklasifikasikan siswa dalam kategori prestasi belajar seperti penilaian dalam ranking dan hasil-hasil tes. Paradigma lama ini menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang sudah mapan dan tidak dipengaruhi oleh usaha dan pendidikan. Paradigma baru mengembangkan kompetensi dan potensi siswa berdasarkan asumsi bahwa usaha dan pendidikan bisa meningkatkan kemampuan mereka. Tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa sampai setinggi yang dia bisa.
4. Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antarpribadi. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama.

Walaupun sudah disadari bahwa siswa mendapatkan banyak keuntungan dari diskusi yang mengaktifkan mereka, tidak banyak guru yang melakukannya. Strategi yang paling sering digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah melibatkan siswa dalam diskusi seluruh kelas. Tetapi strategi ini tidak terlalu efektif, walaupun guru sudah berusaha dan mendorong siswa untuk berpartisipasi. Kebanyakan siswa terpaku hanya menjadi penonton sementara arena kelas dikuasai oleh hanya segelintir orang.

Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa bekerja sama secara gotong royong.

Model Pembelajaran Berbasis Cooperative Learning

1. Mencari Pasangan

Model pembelajaran “mencari pasangan” dimaksudkan agar siswa mencari pasangan sambil belajar mengenal suatu konsep atau topik yang menyenangkan. Misalnya, pengarang dan karyanya; istilah dan pengertiannya; majas dan contohnya; dan sebagainya.
Bagaimana caranya?

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian).
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
3. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya, pemegang kartu yang bertuliskan KOTA KRETEK akan berpasangan dengan pemegang kartu KUDUS. Atau pemegang kartu yang berisi nama KOTA WALI akan berpasangan dengan pemegang kartu DEMAK.
4. Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu yang cocok. Misalnya, pemegang kartu KAPAL akan membentuk kelompok dengan pemegang kartu PERAHU dan RAKIT, sebagai kelompok ALAT TRANSPORTASI AIR.

2. Bertukar Pasangan
Model pembelajaran “bertukar pasangan” memberi siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain. Model ini dapat diterapkan untuk berbagai mata pelajaran di sekolah.

Bagaimana caranya?
1. Setiap siswa mendapatkan satu pasangan (guru bisa menunjuk pasangannya atau siswa melakukan prosedur teknik “mencari pasangan” seperti yang dijelaskan di depan).
2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
3. Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain.
4. Kedua pasangan pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing pasangan yang baru ini kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
5. Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

3. Berpikir-Berpasangan-Berempat (3B)
Model pembelajaran Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan untuk menciptakan kegiatan pembelajaran gotong royong. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari model ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan model klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, model Berpikir-Berpasangan-Berempat ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.

Bagaimana caranya?
1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
2. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
3. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
4. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
5. Perwakilan kelompok berempat berbagi hasil pekerjaan dengan kelompok lainnya, dengan cara menyajikannya di depan kelas.

4. Berkirim Salam dan Soal
Model pembelajaran Berkirim Salam dan Soal memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya. Kegiatan Berkirim Salam dan Soal cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian.

Bagaimana caranya?
1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok.
2. Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya (Salam kelompok bisa berupa sorak kelompok, misalnya “Hebat … hebat … hebat … sehebat Einsten!, Kami datang untuk belajar bersama-sama … ya … ya … ya!, Ole … ole … ole … terimalah kami /datang bertamu /untuk belajar /kepada Anda, Oke…oke…oke?!, Hai teman-teman /ayo…ayo… ayo/ kita belajar supaya pintar!, dan sebagainya.
3. Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
4. Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.

5. Kepala Bernomor
Model pembelajaran Kepala Bernomor memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Bagaimana caranya?
1. Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
4. Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

6. Kepala Bernomor Terstruktur
Model ini merupakan modifikasi dari Kepala Bernomor. Model ini memudahkan pembagian tugas. Dengan cara ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya.

Bagaimana caranya?
1. Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya. Misalnya, siswa nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 2 bertugas mencari penyelesaian soal. Siswa nomor 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompok.
3. Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru juga bisa mengadakan kerja sama antarkelompok. Siswa bisa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.

7. Dua Tinggal Dua Tamu
Model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu bisa digunakan bersama dengan Kepala Bernomor. Struktur Dua Tinggal Dua Tamu memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Banyak kegiatan belajar-mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu dengan yang lainnya. Columbus tidak akan menemukan benua Amerika jika tidak tergerak oleh penemuan Galileo Galilei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Einsten pun mendasarkan teori-teorinya pada teori Newton.

Bagaimana caranya?
1. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
2. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertemu ke dua kelompok yang lain.
3. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

8. Jigsaw
Dalam model pembelajaran ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Bagaimana caranya?
1. Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Guru bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming atau curah pendapat ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
3. Siswa dibagi dalam kelompok berempat.
4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Siswa yang kedua menerima bagian yang kedua. Demikian seterusnya.
5. Kemudian, siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka masing-masing.
6. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca/ dikerjakan masing-masing. Dalam kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
7. Khusus untuk kegiatan membaca, kemudian guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
8. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

Model Pembelajaran Kreatif (Creative Learning)

1. Mengarang Beranting.
Model ini sangat menarik untuk melatih keterampilan siswa dalam menulis atau mengarang. Sangat tepat untuk menerapkan konsep learning sociaty (masyarakat belajar) dalam pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). Sejauh pengalaman penulis dalam menerapkan cara ini, ternyata dengan model mengarang secara beranting siswa belajar dengan senang. Ketika karangan itu selesai, lalu dibaca dan dibahas ditemukan beberapa hal yang menarik dalam kaitannya dengan penulisan ejaan, kohesi dan koherensi, logika, diksi, dan sebagainya.
Tahapan dalam menerapkan metode ini dapat ditempuh sebagai berikut:
a. Bagilah kelas menjadi beberapa kelompok (3-4 kelompok).
b. Siswa pertama dalam setiap kelompok mulai menuliskan kalimat pertama. Kemudian dilanjutkan oleh siswa berikutnya, dan seterusnya sampai selesai. Kalimat pertama dapat dibuat oleh guru, yang masing-masing kelompok dapat berbeda-beda.
c. Tentukan batas waktu dalam kegiatan ini (misalnya 15 menit).
d. Setelah semua siswa menyumbangkan kalimatnya dalam karangan bersama ini maka karangan ini harus dibahas segera di kelas. Berikan perbaikan pada kalimat yang salah dan pujian terhadap kalimat atau upaya siswa yang menarik.
e. Lanjutkan dengan penugasan kepada siswa untuk mengarang secara individual dengan topik, panjang karangan, waktu mengarang yang ditentukan guru.

2. Mengamati Gambar
Guru menyiapkan gambar, dapat berupa gambar tunggal atau gambar seri (misalnya 5-8 gambar yang merupakan rangkaian cerita). Kegiatan pertama siswa diminta mengamati, mencari sesuatu di dalam gambar, mengembangkan kosakata dari gambar itu, untuk kemudian menyusunnya menjadi cerita atau karangan. Kegiatan mengamati dan bercerita atau mengarang ini sebaiknya dilakukan secara kelompok agar terjadi diskusi antara mereka. Guru dapat melihat bagaimana keterlibatan siswa dalam diskusi. Jika batas waktu yang ditentukan telah selesai dan siswa sudah siap dengan karangan atau ceritanya, maka saatnya melihat penampilan mereka di depan kelas.

Tujuan kegiatan belajar ini untuk mengembangkan keterampilan berbicara atau menulis. Di samping itu diharapkan siswa dapat mengembangkan imajinasinya, berani berpendapat, dan dapat mengaitkan peristiwa pada gambar satu dengan gambar lainnya hingga menjadi satu kesatuan.

3. Pengembangan Fantasi Korelatif
Dalam pengembangan fantasi korelatif, siswa diminta mencari pertautan hubungan antara suatu benda dengan benda lain yang keberadaannya saling melengkapi.

Contoh:
Jika kita berbicara tentang laut maka benda-benda yang harus dihadirkan di dalam ruang angan siswa adalah ombak, buih, gelombang, angin, matahari terbit dan tenggelam, pasir, kapal, perahu, jaring, kail, ikan, nyiur, batu karang, pelabuhan, mercu suar, lelang ikan, burung camar, tamasya, dan sebagainya.

Tujuan pengembangan kreativitas korelatif adalah agar siswa terbiasa untuk melanjutkan atau menambah semaksimal mungkin hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan masalah pokok. Dengan demikian, kemampuan siswa terus berkembang dan mendorong tumbuhnya sikap optimistis. Bila siswa terlatih dalam hal ini, kemampuannya untuk menemukan unsur terkait dan korelatif dalam banyak hal akan semakin terbina.
Setelah siswa diajak mendaftar kata yang berkaitan dengan tema Laut misalnya, selanjutnya mereka diajak menulis puisi, karangan, cerita, dan sebagainya dengan memanfaatkan kosakata yang diperolehnya dari tema yang ditentukan. Dengan demikian diharapkan mereka menguraikan tema karangan atau cerita lisan yang sesuai atau berkaitan dengan tema yang ditentukan.

Sudah barang pasti kemampuan siswa untuk melakukan kegiatan tersebut harus terus dilatihkan. Sang guru pun harus mau sedikit sibuk memeriksa dan memberi penilaian terhadap hasil kerja siswa.

4. Pengembangan Fantasi Komplementer.
Dalam pengembangan fantasi komplementer, siswa diminta untuk menjodohkan atau menambahkan satu kata di depan kata yang telah disediakan sehingga terbentuk satu pasangan kata yang mengandung makna lain.
Contoh:
Dari kata mata, bila ditambahkan kata di depan atau dibelakangnya akan menjadi rangkaian: mata angin; mata dewa; mata hati; mata rantai; mata-mata; mata sapi; matahari; mata keranjang; mata kaki; sebelah mata; kacamata; dan air mata buaya.

Tujuan membangun fantasi komplementer adalah agar kreativitas siswa berkembang. Dengan cara ini pula, siswa dibiasakan untuk mencoba mengupayakan sekuat tenaga mencari pertalian antara kata dengan kata lain, baik yang bermakna sebenarnya maupun berupa ungkapan, pepatah, atau peribahasa.

Lebih daripada itu, dengan cara seperti ini siswa akan terlatih untuk aktif mencari dan akhirnya menemukan sesuatu yang diinginkan jika mau kerja keras sehingga siswa tidak cepat menyerah.

5. Pengembangan Fantasi dengan Intonasi.
Pengembangan fantasi dengan intonasi dapat dilakukan pada sebuah kata, kelompok kata, kalimat, bahkan dialog. Model pembelajaran ini diadaptasi dari “Teknik Memberi Isi” yang lazim dilakukan dalam bermain drama. Dengan cara ini, siswa diharapkan memiliki kekayaan batin tentang berbagai perasaan, seperti sedih, senang, puas, terkejut, menyesal, cemas, kecewa, lega, kagum, ragu-ragu, dan sekian banyak lagi perasaan yang timbul guna menanggapi situasi tertentu.
Contoh:

Ucapkanlah kata-kata di bawah ini dengan berbagai intonasi yang menunjukkan perasaan tertentu!
a. Gila.
b. Aduh.
c. Luar biasa.
d. Aku tahu.
e. Kamu pasti bisa.

Saat mengucapkan kata itu, perbolehkan siswa secara improvisasi menambahkan kata atau kalimat lain. Apabila dipadukan dengan ekspresi dan gerak tubuh yang sesuai, maka model pembelajaran ini akan menarik dan menyenangkan bagi siswa. Teknik di atas perlu dikembangkan dengan latihan mengucapkan kalimat yang relatif panjang serta ditentukan nada yang diinginkan.

Penutup
Seperti kata pakar pendidikan, John Dewey, sekolah merupakan miniatur masyarakat. Banyak nilai yang didapatkan seorang siswa di dalam ruang kelas akan terbawa terus dan tercermin dalam tindakan orang tersebut dalam kehidupan masyarakat. Berdasarkan asumsi ini, dapat disimpulkan seorang guru mempunyai peranan yang sangat besar untuk ikut membina kepribadian anak didiknya. Sudah saatnya para guru mengevaluasi cara mengajar mereka dan menyadari dampaknya. Sudah tidak masanya lagi guru hanya mengandalkan satu metode, misalnya ceramah dengan sedikit variasi tanya jawab, dan diskusi klasikal. Metode ceramah yang selama ini banyak dipakai guru terbukti tidak efektif untuk mengembangkan kreativitas siswa. Untuk itulah guru perlu melakukan terobosan baru dalam cara mengajar. Guru harus berani mengadakan inovasi pembelajaran dengan menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran baru. Untuk itu guru dapat menerapkan model Cooperative Learning dan mengembangkan model pembelajaran kreatif (Creative Learning) di kelas.

Penerapan Cooperative and Creative Learning di kelas akan membawa dampak terbentuknya semangat kerjasama dan menghasilkan manusia yang bersahabat dengan sesamanya serta kreatif dalam mengatasi masalah. Selain itu, suasana positif yang timbul dari penerapan metode pembelajaran ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran, sekolah, dan gurunya. Dalam pembelajaran yang menyenangkan itu, siswa semakin terdorong untuk belajar dan betah di sekolah.

Selamat berkreasi dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas untuk mengembangkan kreativitas siswa serta meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Artikel ini kami persembahkan untuk rekan – rekan guru yang pernah / sedang bertugas di sd warureja 01 tahun 2008 – sampai sekarang , antara lain :
Bapak Sudarso , Bapak Giman , Bapak Yusup , Bu Suemi , Bu Cicik Yuliastuti , Bapak H . A . Syaekhoni , Bapak Sutarto, Bu Mediya Siswiari , Bu Khujaenah , Bu Yuli Fitriana , Bapak Widi Ariessetya , Bapak Dian Prilegistyo, Bapak Rasdi , Bapak Wasidi dll )

-0O0-
Daftar Pustaka

Kaswanti Purwo, Bambang. Pokok-Pokok Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Perbukuan Depdikbud, 1997.
Lie, Anita. Cooperative Learning. Jakarta: Gramedia, 2006.
Nursisto. Kiat Menggali Kreativitas. Yogyakarta: Mitra Gama Widya, 2000.
Semiawan, Conny, et. al. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa: Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua. Jakarta : Gramedia, 1984.

2 Tanggapan

  1. apa ada buku yang dijual tentang buku khususnya model pembelajaran mengarang beranting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: